Jumat, 25 Juni 2021

Segmen Julid : Lockdown Tidak Lockdown

 
Foto : Kamila Aswan

Keprihatinan kita pada keadaan dunia yang masih diselimuti ketakutan terhadap wabah penyakit saat ini.
 
Mungkin alangkah baiknya kita sadar bahwa kesalahan manusia adalah penyebabnya. Karena peraturan itu sendiri yang menciptakan adalah manusia, maka manusia pula yang melanggar aturannya sendiri.
Korban berjatuhan meski peraturan diperketat mulai dari perkantoran, perumahan hingga pemukiman. Wabah penyakit yang kini melanda jadi semacam hal menakutkan karena tidak ada obatnya meski sudah ditemukan.
 
Payahnya lagi wabah penyakit yang melanda rupanya di-iringi oleh permainan kotor dan licik. Mereka adalah para pemegang kekuasaan dan penentang kekuasaan yang saling ribut ditengah krisis kesehatan di negeri ini.
 
Bayangkan saja, bukannya saling membantu malah saling menyerang satu sama lain. Yang menonton 
cuma bisa terbaring lemah dalam ruang isolasi layaknya penjara dadakan.
Fenomena penjara dadakan bagi penderita penyakit yang tengah mewabah, tentu menjadi tekanan mental yang amat besar. Mereka seolah dikucilkan dari kehidupan bermasyarakat hanya karena takut tertular.
 
Macam ini pulalah yang memaksa pemerintah melakukan tindakan ekstrem, tindakan itu kita kenal sebagai Lockdown. Apa arti kata Lockdown bagi kita ?
 
Menutup pintu rapat-rapat, menutup jendela rapat-rapat, memblokir jalan-jalan dan mematikan lampu jika hari mulai senja. Nampaknya, ini lebih mirip ibadah Nyepi dibanding Lockdown itu tadi.
Sekali pun semua hal tersebut dilakukan, penyakit yang berbentuk virus ini bisa masuk dari segala celah meski semuanya ditutup ketat.
 
Bukankah virus itu berbentuk kecil dan melayang-layang di udara terbawa angin ?
Betul, mereka seperti hantu yang kasat mata dan menjadi momok menakutkan. Virus adalah mahluk kecil yang hidup atas KehendakNya.
 
Yang pasti solusi macam tadi tidak akan menyelesaikan masalah sama sekali. Korban semakin bertambah dan bukan tidak mungkin bisa menjadi bencana terparah dalam sejarah kehidupan umat manusia.
 
Mengertilah bahwa virus tidak bisa musnah kecuali jika manusia mampu menjinakkannya. Virus-virus yang dulu muncul seperti HIV misalnya tentu sudah dikendalikan bahkan ada yang sembuh total.
Lalu, bagaimana dengan virus yang kini melanda sekarang ?
 
Jawabannya tentu ada pada tindakkan kita sendiri, apakah kita lupa bahwa merebaknya wabah penyakit disebabkan oleh kelalaian kita sendiri atas rusaknya alam bebas ?
 
Virus yang jinak tidak akan menyerang manusia jika alam bebas tidak dirusak semau wudelnya sendiri.
Alam berperan penting menjadi habitat virus, justru kerusakan alam merupakan puncak kemarahan virus yang pada akhirnya menjangkit manusia.
 
Perlukah kita merawat alam ?
Tentu saja iya...
Perlukah kita menjaga lingkungan ?
Tentu saja iya...
Perlukah kita melakukan Lockdown ?
Tentu saja tidak mesti...
Perlukah kita menghentikan kebiasaan buruk ?
Tentu saja harus semestinya...
 
Alam dan manusia harus bersatu, tidak boleh dipisahkan oleh kepentingan pribadi. Virus hidup di alam bebas, asalkan alam tetap dijaga kelestariannya. Virus mungkin saat ini dipaksa hidup dalam laboraturium untuk diteliti, namun akhirnya dipaksa menjadi senjata biologis untuk membunuh sesama mahluk hidup.
 
Betulkah virus bisa dicegah dengan Lockdown ?
Betulkah virus berhak hidup di alam bebas ?
Betulkah virus bisa dijinakkan ?
Betulkan virus berhak dizalimi atas kejadian ini ?
 
Jawabannya terletak pada tindakan manusia itu sendiri, mau menjaga kelestarian alam atau merusak kelestarian alam hanya demi sesuap nasi dan pundi-pundi rupiah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar